Powered by Blogger.
Showing posts with label dongeng kontemporer. Show all posts
Showing posts with label dongeng kontemporer. Show all posts

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan I


    Lelaki itu menyukai puisi seperti dia menyukai es krim. Puisi membuat hatinya meleleh bila ia sedang panas dan senyumnya rekah, meski ia tengah tak ingin. Dia juga menyukai kacamata pacarnya yang bertangkai hitam. Meski batang tebu—yang kulitnya telah dikupas—warnanya kuning agak kehijauan, tapi dia kerap membayangkan tangkai kacamata pacarnya adalah tangkai tebu. Kapanpun ia mau, ia bisa menjilatnya dan menemukan manis yang dirinduinya di sana. Saat mendengar fantasinya, sang pacar yang bertubuh aduhai seperti wonderland, hanya tersenyum diam-diam.

    Lelaki itu suka senyum diam-diam sang pacar. Seperti kotak musik yang dihadiahkan temannya dari Jerman. Senyum diam-diam dan kotak musik dari Jerman. Keduanya ditaruh di sudut hati dan bisa mengobati sunyi kala si lelaki benar-benar terhisap sepi. Itu telah dibuktikannya berkali-kali.

    Hanya saja si lelaki tak tahu, kalau pacarnya cemburu dengan kotak musik dari Jerman. Perempuan itu mengira, lelaki kekasihnya menyukai si pemberi hingga menjaga hadiah yang diberikan dengan sangat hati-hati. Tak mau kalah, suatu hari ketika si lelaki berulang tahun yang kedua puluh lima, sang pacar memberinya hadiah sebuah piano sungguhan. Berharap lelaki itu lupa dengan kotak musik Jerman dari perempuan yang diakuinya sebagai teman.

    Lelaki itu dengan tulus mengucapkan terimakasih dan ia begitu senang. Dimainkannya lagu ‘Fur Elise’ untuk kekasihnya yang bernama Rosa. Rosa tampak bahagia meski ia gengsi menghadiahkan ciuman untuk si pacar.

    Lelaki yang jarinya masih menempel di atas tuts piano itu maklum akan sikap kekasihnya, ia pun lantas memainkan lagu yang begitu saja diciptanya, ‘Rosa Kekasihku Yang Tak Ekspresif’ begitu judul lagunya. Untuk membuat cemberut di wajah Rosa bertahan hanya sebentar, lelaki itu membingkiskan hadiah balasan untuk piano besar yang dihadiahkan Rosa untuk ulang tahunnya. Aku ingin mengajakmu kencan di sebuah taman, ucapnya. Sebuah piknik yang pastinya akan sangat menyenangkan.

Post Title

→

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan I


Post URL

→

https://gallerygirlss.blogspot.com/2007/09/catatan-tentang-piknik-yang-tak.html


Visit Gallery Girls for Daily Updated Gallery Girls

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan II


    Lelaki itu membeli sebotol Chivas, memasukkan roti garlic panjang ke dalam keranjang, tiga butir apel Fuji, setengah kilogram anggur hijau berwarna segar dan empat butir telur rebus beserta dua bongkah besar kentang bakar. Bermaksud untuk membuat kejutan, di bawah Tupperware kentang bakar, diam-diam si lelaki menyelimuti sebuah puisi dan hendak membacakannya di depan sang kekasih, nanti.

    Volkswagen Beetle mungil warna biru berlari kencang di jalan. Matahari hangat sedang. Jim Morrison terdengar melengking menyanyikan bait “C’mon baby light my fire…” yang diikuti berkali-kali oleh si lelaki. Seperti biasa, Rosa hanya tersenyum diam-diam sambil menikmati angin yang menggulung anak rambut di dahinya. Kaca mata minusnya yang bertangkai hitam kali itu tak tampak seperti batang tebu di mata si lelaki. Kekasihnya itu tengah sibuk dengan jalanan yang kadang melebar kadang menyempit, sesekali terdengar bunyi rem yang mendecit.

    Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di tempat tujuan.

    Yang dilihat pertama kali oleh Rosa di taman itu adalah langit yang agak gelap, empat pasang bebek hitam yang sedang berenang di danau, pohon cengkih yang dengan mustahilnya dibiarkan tumbuh di tengah lapangan oleh si pengelola, dan deretan warung makan franchise yang membuatnya tak lagi merasa tengah berada di sebuah taman.

    “Yuhuuuu… Kita sampai!”

    Saat si lelaki dengan ceria berkata demikian, kepala Rosa membayangkan Central Park, lalu terbang ke Hyde Park dan kemudian berubah menjadi… Aduh, setidaknya yang namanya taman ya seperti Kebun Raya Bogor lah! Gerutunya, lagi-lagi, diam-diam.

    Lelaki itu ingin membawa Rosa ke sebuah tempat yang akan membawa mereka lebih dekat dengan langit. Mengamati pucuk-pucuk pohon sambil berjalan berdempetan mengakali rumput-rumput liar yang tumbuh mengganggu kaki para pengunjung di jalan setapak. Maka tak ayal tempat yang agak menepi dekat hutan itulah yang dijadikan pilihannya. Sedang Rosa semalaman telah berkhayal akan piknik menyenangkan berduaan di hamparan rumput hijau terpotong rapi yang bergelimang cahaya. Makan siang a la de la carte, minum Chivas Regal ditingkahi suara hening alam, dan kekasihnya yang agresif itu akan mencuri sedikit cium dari bibirnya saat mereka tiduran setelah kenyang makan siang. Tapi di tempat ini!? Rosa menghembuskan nafas panjang.

    Karena si lelaki telah bersama Rosa selama lebih dari dua tahun, dan itu artinya adalah sebuah hubungan yang lumayan cukup lama, si lelaki bisa tahu bahkan saat kancing di ujung bawah baju Rosa, tak sama warnanya. Perubahan sekecil apapun yang terjadi dengan kekasihnya, bisa dia endus dengan mudah...

Post Title

→

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan II


Post URL

→

https://gallerygirlss.blogspot.com/2007/09/catatan-tentang-piknik-yang-tak_21.html


Visit Gallery Girls for Daily Updated Gallery Girls

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan III


    “Kamu nggak senang ya, dengan tempat ini?” tanyanya.

    "Kebiasaan banget sih kamu, main sembarang tuduh saja.” Rosa tak suka kekasihnya tahu dengan pasti keadaan hatinya.

    “Nggak ada yang nuduh kamu, ah. Aku cuma bertanya kok.” Si Lelaki kini tahu pasti Rosa memang tak senang dengan tempat piknik yang dipilihnya.

    “Ya kalau kayak tadi cara pengungkapannya, ya itu nggak nanya dong, namanya.” Ekspresi wajah Rosa kini seperti lelehan lilin cair yang mengeras.

    Ingin si lelaki menarik lagi lagu yang semalam diciptakannya dengan spontan, Rosa Kekasihku yang Tak Ekspresif. Dengan cara yang cukup menyebalkan, si lelaki kerap heran dengan ekspresi-ekspresi kekasihnya. Kalau yang berhubungan dengan ekspresi cinta, Rosa kelihatan sangat tumpul, bebal, hati-hati dan terlalu jaga image. Tak mau mencium duluan, tak pernah sekalipun bilang ‘I Love You’ kecuali bila di atas ranjang dan itu pun setelah ia menghiba meminta, menolak disebrangkan di jalan sambil digandeng tangan dan tak pernah menggelendot manja seperti kebanyakan tingkah mesra perempuan kepada kekasihnya. Rosa tak mampu menampakkan kemesraan baik di depan publik atau pun saat sedang bersama teman-teman. Tapi untuk ekpresi-ekpresi yang lain…. Uhhh… Rosa jagonya! Terutama untuk urusan marah.

    Dan di taman itu…

    Sang lelaki sangat tak suka ekspresi lelehan lilin cair yang mengeras di wajah Rosa. Ia ingin segera mengembalikan semua ke keadaan semula. Bukankah ini adalah piknik dan mereka harusnya bersenang-senang bukannya saling marahan?

    “Aku minta maaf deh kalau begitu,” ucap si lelaki yang tak suka dengan suasana dingin permukaan es.

    “Kok minta maaf sih? Kayaknya nggak ada yang salah deh,” Rosa tetap dengan ekspresi kerasnya.

    “Ya sudah, jadi kamu maunya gimana? Kita pulang saja?”

    “Kamu mau kita pulang?”

    “Ya enggak, aku tanya kamu, kamu mau kita pulang apa bagaimana?”

    Hening…

Post Title

→

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan III


Post URL

→

https://gallerygirlss.blogspot.com/2007/09/catatan-tentang-piknik-yang-tak_8902.html


Visit Gallery Girls for Daily Updated Gallery Girls

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan IV



    Mereka berdua berada tepat di tengah taman. Sebelah barat lahan parkiran, sebelah timur kerumunan keluarga yang sedang makan si di resto franchise, sebelah selatan danau yang berkeriyap menyilaukan sedangkan sebelah utara adalah hutan yang akan dituju si lelaki—tempat mereka rencananya akan menghamparkan karpet plastik tipis, nanti.

    Bila dilihat dari tempat di mana jejeran warung franchise berada, cara Rosa dan sang lelaki berdiri, cukup menggelikan dan mencuri perhatian. Sejak keluar dari lahan parkiran, tepat di tengah taman, kedua orang yang tiba-tiba berhenti berjalan itu tampak seperti patung. Diam membatu dengan posisi yang tak berubah. Tangan kiri si Lelaki membawa karpet plastik tipis sedang tangan kanannya membawa radio kecil yang rencananya akan diputar untuk menambah manis kegiatan piknik. Dan lihatlah si perempuan… Ia membawa keranjang piknik ukuran sedang di tangan kanan dan tangan kirinya cuma melenggang dengan telapak yang sesekali terkepal.

    Hening…

    “Kayaknya kita bukan patung, deh. Kok diam saja begini, sih?” Ada suara dengan bendera putih tanda damai yang menyembul keluar dari intonasi kalimat yang diucapkan Rosa, setelah sekian lama keduanya terdiam. Sebersit kesadaran bahwa acara piknik siang itu merupakan rangkaian dari perayaan ulang tahun sang pacar, membuat Rosa berusaha tidak terlalu egois dan melumerkan emosinya. “Sebenarnya kamu mau ajak aku kemana sih?”

    Wajah perempuan di hadapannya kini terlihat seperti matahari sore yang melembut. Lelaki itu menarik nafas lega, diam-diam. Ia sungguh tak suka suasana kaku tak nyaman yang muncul di luar skenarionya, barusan. “Ngomong kok kebanyakan sih, sih? Nggak bisa yah kalau nggak pake sih?” Lelaki itu sengaja mencibir. Ia tahu, Rosa suka dan paling nggak tahan kalau digoda.

    “Apaaaaan sih? Nggak penting banget deh ih, komentarnya!” Senyum di bibir Rosa mulai mengembang.

    Andai saja Rosa adalah gadis lain yang pernah juga diajaknya ke tempat itu pada suatu week end yang lain, maka sebuah cubitan kecil manja pasti turut mendarat entah di lengan atau paha lelaki itu. Tapi tentu saja Rosa bukan gadis itu, dan salah satu alasan lelaki tersebut meninggalkan gadis lain tersebut adalah hal itu. Alasan konyol yang masuk akal, sebenarnya. Lelaki itu tak suka bila kulit lengan atau pahanya terkelupas dan lecet. Lagian, gadis lain itu tak menyukai puisi. Tak mengenal Pablo Neruda, tak mengetahui Ayu Utami atau Seno Gumira Ajidarma. Dan yang paling parah, gadis lain itu mengira Haruki Murakami adalah manajer restoran Hanamasa yang terakhir buka cabang di Jakarta. Eewwww… Mengerikan bukan?

    Tapi Rosa…

    Langit yang sejak tadi agak gelap mencurahkan hujan dingin tiba-tiba yang merintiki mereka. Seguratan benda cair menetes dari ketinggian, menghinggapi pipi pualam Rosa. Membuat perempuan itu melepas kacamatanya, menengadah ke langit dan menjumpai selarik awan bersisik yang mengingatkannya pada puisi yang dikutip Neil Geiman dalam novel Stardust. Mackerel sky/ Mackerel sky/ Not Long Wet/ Not Long Dry…* Ya, ini pasti gerimis yang sebentar.

    Dan lelaki itu terpana. Entah puisi lembut yang dirapal Rosa dalam hati ataukah posisi wajah Rosa yang mendongak dan memperlihatkan leher putihnya yang jenjang yang membuat desiran itu tiba-tiba muncul ke permukaan, begitu saja menghadirkan denyar birahi di dada si lelaki. Membuatnya ingin menggumuli sang pacar saat itu juga di bawah hujan.

    Sekali dalam hidup, tak apa bila kita melakukan secara spontan apa yang kita inginkan, demikin batin si lelaki. Dan begitu saja benar-benar dilepaskannya radio di genggaman tangan kanan. Dibuangnya karpet plastik tipis dari genggaman tangan kiri. Ditubruknya Rosa yang masih menghadapkan wajah ke langit sana. Diciuminya leher perempuan itu seakan ia tak pernah mencium bagian tersebut sebelumnya. Digapainya bibir Rosa yang berusaha berontak tapi kemudian terdiam setelah lelaki itu memeluknya lebih erat. Birahi liar yang diendus Rosa dari dengus nafas lelakinya, membuat perempuan itu tahu bahwa menikmati saja moment tersebut adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat itu.

    Untuk pertama kalinya, mereka berciuman di tempat umum. Dalam hujan sebentar yang dingin, tepat di tengah taman. Jantung lelaki itu berdebar hebat dan dadanya membengkak seakan tak cukup besar untuk memuat semua perasaan yang saat itu ingin ditampungnya. Dan saat ia membuka mata seraya mencium kembali bibir Rosa, mata hitam perempuan itu balas menatapnya. Dan dalam mata itu si lelaki tak bisa membayangkan untuk berpisah darinya….



    __________________

    *Puisi ini adalah salah satu puisi weather lore (cerita rakyat tentang cuaca), untuk meramalkna cuaca. Pola langit yang mirip sisik ikan Mackerel, berupa awan-awan sirus yang panjang dan seperti benang-benang halus, menandakan bahwa sistem bertekanan rendah yang membawa kelembaban sedang mendekat. Ini biasanya berarti meningkatnya laju angin, awan dan hujan 24 jam kemudian.

Post Title

→

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan IV


Post URL

→

https://gallerygirlss.blogspot.com/2007/09/catatan-tentang-piknik-yang-tak_8134.html


Visit Gallery Girls for Daily Updated Gallery Girls

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan V


    “Plak!”

    Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi si lelaki. Menyadarkan keadaan basah yang mulai menguyupi kemeja kasual dan tentu saja—celana dalam si lelaki dimana adik kecil di dalamnya telah mulai bandel dan mengeras

    Rosa berhasil berontak dari dekapan. Perempuan itu berlari menuju tempat berteduh terdekat setelah menamparnya. Nafasnya terengah, entah karena sisa ciuman yang atas nama kesopanan di tempat umum—terpaksa harus dihentikan, atau memang karena emosi dan akibat dari lari dengan tenaga begitu kuat.

    “Tapi Rosa… Aku...!” Lelaki itu berteriak sambil menyusul kekasihnya. Hujan tak tambah membesar.

    “Sekarang bagaimana? Masih mau pikinik?!” Sergap Rosa dengan mata mendelik begitu si lelaki sampai di tempatnya. “Makanan jatuh di tanah, karpet kuyup dan radio trasistor ibuku pasti rusak dimasuki air! Bajuku…” Perempuan itu mengusap-usap baju putihnya seolah ujung jari itu bisa mengeluarkan efek panas dan mengeringkan pakaian yang telah menceplak lekuk tubuhnya.

    “Tapi kamu nggak marah dengan…” Lelaki itu terlihat gugup.

    “Ciuman tololmu?! Di muka umum?!” Wajah Rosa tampak begitu marah. Matanya membesar dan kembali mendelik. Mata yang sama sekali berbeda dengan mata milik perempuan yang beberapa waktu tadi dipeluk si lelaki di bawah hujan. Dan itu sangat mengecewakan si lelaki, membuatnya tiba-tiba saja sangat bersedih.

    Lelaki itu berpikir adakah Rosa tak kunjung mengerti juga tentang rahasia dari sebuah ciuman? Kekuatan yang bisa mengembalikan pangeran kodok menjadi tampan. Energi yang mampu membuat putri tertidur kembali bangun dan memiliki binaran mata yang lebih bercahaya dari cangkang telur yang di dalamnya berisi cahaya bintang dan dua belas rembulan.

    Dan perasaan bahwa kekasihnya tak menikmati ciuman yang bagi si lelaki teramat dramatik tadi—sebuah ciuman yang membuatnya merasa menjadi lelaki paling romantis sedunia, membuat lelaki itu benar-benar merasa tak berguna. Ia menatap larik hujan dengan hampa.

    “Jadi sekarang kamu maunya gimana?” tanya si lelaki sambil memandang keranjang makanan yang berubah kecoklatan di tengah hujan.

    Rosa tak terdengar memberikan jawaban. Hanya saja andai lelaki itu bisa mendengar teriakan Rosa dalam hati, berkali perempuan itu menjerit, “Ini benar-benar piknik yang tak menyenangkan! Ini benar-benar piknik yang tak menyenangkan!”***



    FIN

Post Title

→

Catatan Tentang Piknik Yang Tak Menyenangkan V


Post URL

→

https://gallerygirlss.blogspot.com/2007/09/catatan-tentang-piknik-yang-tak_7808.html


Visit Gallery Girls for Daily Updated Gallery Girls
Cpx24.com CPM Program

Popular Posts

My Blog List

Total Pageviews